MATERI

Hj. NAWAL NUR ARAFAH YASIN

PADA

TALKSHOW KEWIRAUSAHAAN PESANTREN

REMBANG, 24 DESEMBER 2019

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Dan saya ucapkan selamat siang.

 

Yang saya hormati pejabat yang berkesempatan hadir;

Ketua Yayasan Al Anwar III Pondok Pesantren Al Anwar 3;

Panitia dan Peserta Talkshow;

 

Hadirin yang berbahagia;

I.                   Pengantar

Puji syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, Alhamdulillah siang ini kita dapat bersama-sama hadir di Penginapan Tugu Asri, di wilayah perbatasan Sarang-Tuban, me-nyertai ”Talk Show” dengan tema ”Kewirausahaan Pesantren”. Untuk itu saya sampaikan ”terima kasih”, meski saya kaget mendapat undangan sebagai bintang tamu acara ini.

 

II.               Pentingnya Wirausaha

 

a.     Kewirausahaan berasal dari kata wirausaha yaitu upaya memberdayakan diri sesuai po-tensi, minat, bakat dan kemampuan yang dimiliki, sehingga menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Menurut Mc. Clelland, kewirausahaan diartikan sebagai orang yang mampu mengatur, menguasai alat produksi, sehingga menghasilkan hasil yang berlebihan. Edi Swasono mengartikan kewirausahaan sebagai orang yang ingin berprestasi dan selalu mencari cara baru.

b.    Kata kuncinya, tidak ada orang yang suk-ses dengan cara tiba-tiba, melainkan mela-lui proses perjalanan panjang dan penuh perjuangan. Maka yang penting adalah keberanian dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, dan mulai dari sekarang. Selain itu juga diikuti dengan sikap mau dan berani mencoba disertai keuletan, etos kerja tinggi, kerja keras dan tekun. Selain itu mau dan tak malu belajar dari pengalam-an termasuk dari orang lain, berani me-manfaatkan kesempatan, serta bersedia membangun network.

c.     Satu tekad utama menjadi wirausaha ada-lah peka dan keberanian merubah masalah menjadi peluang. Kemudian terus menga-sah kreativitas dan inovasi untuk mewu-judkan mimpi. Berbuat dan berbuat.

d.    Keuntungan menjadi seorang wirausaha, antara lain memiliki kebebasan untuk men-capai tujuan yang diimpikan, bisa meng-eksplore bakat, minat, kemampuan dan potensi. Selain itu juga bermanfaat bagi sesama dengan membuka peluang baru melalui lapangan kerja.

e.     Kalau kita mau mencermati sejarah, se-sungguhnya banyak kaum perempuan yang menjadi wirausaha. Salah satunya  R.A. Kartini dengan pelatihan memasak, menjahit, bahkan membuat ukiran yang hasilnya di jual hingga mancanegara. Martha Tilaar dan Mooryati Soedibyo de-ngan kosmetik Sari Ayu dan Mustika Ratu. Anne Avantie berkibar dengan mode ke-bayanya.

Saya contohkan perempuan, karena masih dalam suasana Peringatan Hari Ibu (PHI). Dan Islam juga selalu menjunjung tinggi martabat perempuan, hingga surgapun ada di bawa telapak kaki ibu.

III. Kewirausahaan Pesantren

 

§ Santri masa kini dituntut untuk tidak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga mampu berwirausaha

§ Hal ini merupakan upaya konkret yang dilakukan pemerintah untuk mendorong jiwa wirausaha para santri, antara lain memfa-silitasi dengan alat-alat produksi

§ Misalnya, di Pondok Pesantren, kami me-ngirimkan langsung mesin dan peralatan pembuat roti untuk dimanfaatkan para santri agar bisa produktif dan berwirausaha

§ Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan berbasis keagamaan yang telah dikenal sebagai lembaga yang mandiri, sekaligus agen pembangunan yang menjadi panutan dalam kehidupan masyarakat 

§   Selain itu, pondok pesantren telah dikenal menjadi tempat untuk menempa para santri yang berakhlak dan berbudi pekerti luhur, ulet, jujur, serta pekerja keras.

§   Pondok pesantren juga memiliki potensi pemberdayaan ekonomi, mengingat sudah banyak pondok pesantren yang mendirikan koperasi, mengembangkan berbagai unit bisnis atau industri berskala kecil dan menengah, dan memiliki inkubator bisnis. Seluruh potensi ini merupakan modal yang cukup kuat dalam menghadapi revolusi industri 4.0

§   Pesantren itu tempat gladi, tidak hanya dalam hal agama, tetapi juga di semua bidang, termasuk kewirausahaan. Contoh yang mudah adalah memenuhi kebutuhan pesantren, seperti buku-buku agama ter-masuk Al Quran, sarung, mukena, sajadah, tasbih, souvenir/asesoris bernuansa Islam, dll.

§   Hal itu semestinya bisa diupayakan oleh pondok pesantren setempat, dengan me-ngoptimalkan potensi yang ada. Potensi tidak hanya terkait bahan, melainkan juga tenaga ahli. Jadi misalnya di Sarang-Tuban ini terkenal dengan ampo (tanah liat) sebagai bahan baku makanan cemilan, maka pesantren bisa memanfaatkan ampo sebagai bahan membuat tasbih. Demikian pula kalau di lingkungan setempat ada yang ahli jahit atau bordir, maka bisa diajak kerjasama untuk membuat koko, gamis, kerudung, dll, tidak saja untuk keperluan pesantren, tetapi juga bisa dijual untuk umum.   

§   Kalaupun ada sejengkal lahan di pesantren, maka bisa didayagunakan untuk membuat kolam ikan dengan atasnya untuk kandang serta bertanam secara hidroponik. Jadi ngiras ngirus. Kotoran hewan dan daun-daun kering bisa untuk membuat kompos, ikan dan hewan bisa diambil daging/telur, sayuran bisa diolah secara kolaborasi.

§   Pengolahan juga harus istimewa, misal panen ikan, maka pengolahannya tidak sekedar digoreng, dibakar, dibumbu acar, dan sebagainya, melainkan diolah dengan dipadupadankan hasil panen lainnya, se-perti ketela, jagung, misalnya dibuat kue kering gurami, dawet lele, nugget bawal, donat isi tuna, keripik nila, dan sebagainya. Dengan demikian selain relatif lebih awet dan tahan lama, makanan yang unik ter-sebut sarat dengan gizi. Terlebih dengan bentuk yang menarik, kemasan yang apik, diharapkan dapat membuat orang yang melihatnya tertarik untuk membeli. Itu adalah peluang usaha yang dapat dikembangkan.

§   Dalam pelaksanaannya, silahkan diatur sedemikian rupa. Yang penting dari hasil penjualan tersebut, sebagian disisihkan untuk kas pesantren, sebagian untuk pribadi yang melakukan usaha.

§   Terkait hal tersebut, kepada pengurus pesantren hendaknya senantiasa menjalin koordinasi dan kemitraan dengan berbagai pihak terkait. Sebagai contoh di tahun 2019 ini Dinas Pertanian dan Perkebunan menyelenggarakan pelatihan berbasis pesantren, Dinas Perikanan dan Kelautan memberikan benih ikan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan memberikan bantu-an kambing, Dinas Koperasi memberikan Bintek Koperasi, dll.

§   Dengan demikian baik bibit, pengolahan, pengemasan, manajemen dan pemasaran-nya akan dapat dilakukan secara profe-sional. Silahkan koordinasi secara intens.

§   Mendukung hal tersebut, manfaatkan Tek-nologi, Infomasi dan Komunikasi (TIK), sehingga segala sesuatunya dapat cepat dilakukan dan mempermudah akses. Kalau itu bisa dilakukan, Insya Allah pesantren tidak hanya maju dalam ilmu agama, melainkan juga maju dibidang kewira-usahaan, sehingga mandiri dan tangguh.

§   Di era modern ini, entrepreuner atau wira-usahawan harus memanfaatkan kecang-gihan teknologi. Ini adalah era digital, mengikuti perkembangan dan tuntutan zaman adalah keharusan. Bahkan potensi perkembangan teknologi bisa menjadi basis pengembangan usahanya. Oleh kare-nanya, segera lakukan business plan yang ada.

§   Satu hal yang harus diingat jiwa wirausaha itu  bukan semata bakat, tetapi ilmu dan keterampilan yang bisa dipelajari asal ada kemauan yang kuat dan disiplin.

§   Jangan ragu untuk melangkah, segeralah mulai melangkah, karena seribu mil per-jalanan sekalipun selalu diawali dari satu langkah

 

IV. Tosaga

 

§   Dalam rangka pemberdayaan ekonomi Pondok Pesantren (ePontren) ini, mulai tahun 2019 Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Koperasi UKM telah melakukan berbagai upaya, antara lain: Pendampingan Mana-jemen Usaha dalam bentuk Bimbingan Teknis dan Magang terhadap Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) pada 120 Kopontren di Jawa Tengah, dengan target 500 Ponpes selama 5 tahun; Pendampingan Penguatan Kelem-bagaan bagi Kopontren; serta Pelatihan Manajemen Usaha Kecil selama 5 hari dalam 4 angkatan bagi 120 orang UKM Santri, sehingga diharapkan muncul Wirausaha Pemula dari kalangan Santri.    

§   Pada tahun 2019 ini, Dinas Koperasi UKM Provinsi Jawa Tengah bekerjasama dengan Sampoerna Retail Community (SRC) juga telah mendampingi terbentuknya Branding TOSAGA (Toko Santri Gayeng) pada 10 unit Kopontren, dengan kegiatan pendampingan usaha, rebranding, penataan toko, peningkatan ketrampilan pengelola toko dan support bisnis (dalam bentuk bantuan Komputer, Rak Display, Pengecatan, dan papan nama Loggo TOSAGA). Secara bertahap Branding TOSAGA ini akan terus ditingkatkan, sehingga pada tahun 2020 ditarget-kan sudah terbentuk di 35 unit TOSAGA. 

§   Pada momentum peringatan Hari Santri Tahun 2019 ini, kita juga melaunching TOSAGA (Toko Santri Gayeng) dan menyerahkan Branding TOSAGA kepada 10 Kopontren

V.     Pertanian terpadu berbasis pesantren

 

§   Inilah bentuk kemandirian dan kedaulatan yang selalu di-sounding-kan Bapak Gubernur, bahwa Jawa Tengah tidak boleh hanya sekedar tahan pangan, tetapi harus ber-daulat pangan, karena dengan berdaulat, kita tidak akan bergantung dengan bangsa atau negara lain. Sedangkan berdaulat pangan, kita mampu memenuhi kebutuhan pangan Jawa Tengah secara mandiri, tidak bergantung pada daerah lain. Karena itu, untuk mewujudkan ke-daulatan pangan tersebut, salah satunya dengan meng-upayakan pertanian terpadu (integrated farming).

§   Integrated Farming System, atau sistem per-tanian terpadu didefinisikan sebagai pengga-bungan semua komponen pertanian dalam suatu sistem usaha pertanian yang terpadu. Sistem ini mengedepankan ekonomi yang berbasis teknologi ramah lingkungan dan optimalisasi semua sumber energi yang dihasilkan.

§   Di Indonesia, model usaha ini masih se-batas wacana karena masih kurangnya penge-tahuan masyarakat, dan diperlukan modal yang cukup tinggi. Padahal usaha ini sangat cocok digunakan di Indonesia yang memiliki iklim tropis dengan limpahan sinar matahari sepanjang tahun dan curah hujan tinggi.

§   Beberapa metode diversifikasi pertanian yang sudah dilaksanakan, seperti minapadi (padi dengan ikan) dan longyam (balong ayam/ikan dengan ayam).

§   Pada tahun 2014, melalui pencanangan oleh Bapak Gubernur di Ponpes Darussalam, Watu-congol, Muntilan, Kab Magelang, telah diberikan bantuan Hibah Bidang Pertanian kepada 10 Kelompok Tani pada 10 Pondok Pesantren di Kab. Magelang, Wonogiri, Grobogan, Kudus, Boyolali, Sragen, Kab. Semarang, Demak

§   Bentuk program berupa bantuan Hibah Bidang Pertanian kepada kelompok tani dibawah asuhan pondok pesantren serta pendampingan dan pelatihan penerima hibah.

§   Jenis kegiatan yang dikelola bermacam-macam, antara lain ternak sapi, ternak kambing dan  budidaya ikan.

 

VI. Penutup

 

        Demikian yang dapat saya sampaikan pada kesempatan ini. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa  memberikan kemudahan dan kekuatan bagi kita semua.

 

Sekian dan terima kasih atas perhatiannya.

 

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

 

 

 

 

 

Hj. NAWAL NUR ARAFAH YASIN