POKOK-POKOK MATERI

HJ. NAWAL NUR ARAFH YASIN

PADA

KONFERENSI CABANG KOALISI PEREMPUAN INDONESIA (KPI) CABANG JEPARA

DAN KONFERENSI CABANG

(KONFERCAB) KE-5 KPI JEPARA

JEPARA, 28 DESEMBER 2019

 

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua.

 

Yang saya hormati Bupati Jepara;

Sekretaris Jendral (Sekjen) Koalisi Perempuan In-donesia (KPI);

Ketua Cabang KPI Jepara;

Panitia dan Peserta Seminar;

 

       Hadirin yang berbahagia;

 

A.     PENDAHULUAN

         Teriring rasa syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, Alhamdulillah kita masih diberi nikmat sehat dan kesempatan untuk bersama-sama hadir di Pendopo Alit Kab. Jepara, me-nyertai acara “Konferensi Cabang Koalisi Pe-rempuan Indonesia (KPI) Cabang Jepara” Dan Konferensi Cabang (Konfercab) Ke-5 KPI Jepara. Adapun tema yang tetapkan ada-lah ”Kebijakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah  (Jateng) dalam Upaya Pencegah-an Perkawinan Usia Anak”.

 

B.     DATA BASIS

1.       Data kekerasan Provinsi Jawa Tengah sam-pai dengan akhir Oktober 2019 menunjuk-kan jumlah korban kekerasan sejumlah 1.753 orang.

2.       Jumlah korban berdasarkan kelompok umur, untuk anak sejumlah 895 dan dewasa 858.

3.       Data jumlah kekerasan terhadap anak menurut kab/kota Tahun 2018, paling tinggi adalah Kota Semarang (195), Banyumas 123, Demak 76, disusul kemudian Wonosobo 67, Kebumen 66.

4.       Berdasarkan jenis kekerasan yang dialami anak Tahun 2018, paling tinggi adalah seksual (734,46%), fisik 324,21% dan eks-ploitasi (306,19%). Kemudian penelantaran 91,6% dan trafficking 85,5%. 

5.       Trend jumlah perkawinan usia anak di Jawa Tengah per 17 September 2019 adalah 895 untuk laki-laki di bawah 19 tahun dan 453 untuk perempuan di bawah 16 tahun.

6.       Pernikahan usia anak adalah pernikahan yang terjadi sebelum anak berusia 18 tahun serta belum memiliki  kematangan fisik, fisiologis, dan psikologis untuk mempertang-gungjawabkan pernikahan dan anak hasil  pernikahan tersebut, serta sah menurut agama dan negara. (Erulkar, 2013; Boman-tama, 2018; Fadlyana & Larasaty,  2009)

7.       Faktor Penyebab Terjadinya Pernikahan Usia Anak

a.   Budaya

Pernikahan usia anak lebih sering dialami perempuan, dan biasanya terjadi pada masyarakat desa. Sebab dalam ling-kungan masyarakat seperti itu biasanya memiliki asumsi khususnya masyarakat Jawa, bahwa perempuan yang telah me-nginjak usia baligh atau telah memasuki usia remaja sebaiknya lekas-lekas dinikah-kan. Jika hal itu tidak dilakukan akan mendapat cemoohan dan julukan sebagai perawan yang tidak laku, atau bahkan lebih menyakitkan lagi, yakni dengan sebutan perawan kasep.

 

b.  Kontrol atas seksualitas

Terdapat tekanan besar pada orang tua untuk menikahkan anak perempuan lebih awal guna menjaga kehormatan keluarga dan meminimalkan risiko perilaku  seksual yang tidak pantas. Selain itu, pernikahan akibat kehamilan di luar pernikahan pada remaja kita juga acap kali terjadi.

c.   Ekonomi

Perkawinan anak terjadi karena keadaan keluarga yang hidup di garis kemiskinan, untuk meringankan beban orang tuanya maka anak perempuannya dikawinkan de-ngan orang yang dianggap mampu. Per-kawinan anak dinilai sebagai strategi  ekonomi untuk mengurangi biaya  mem-besarkan anak perempuan

 

d.  Pendidikan

Rendahnya tingkat pendidikan maupun pengetahuan orang tua, anak dan masya-rakat, menyebabkan adanya kecende-rungan mengawinkan anaknya yang ma-sih dibawah umur.

 

e.   Ketidaksetaraan Jenis Kelamin

Budaya patriarkal memaksa anak perem-puan dan perempuan menerima peran do-mestik  mereka dan memiliki peran terba-tas dalam masyarakat yang lebih luas, sehingga menghasilkan ketergantungan total  perempuan pada laki-laki.

f.    Emosionalitas Laki-laki dan Perempuan

Usia remaja merupakan usia kelabilan pada emosinya yang terkadang berakibat kepada keputusan untuk menikah dengan tergesa-gesa tanpa melalui pertimbangan yang matang. Remaja, selalu berkhayal tentang sesuatu yang menyenangkan ser-ta terkadang tidak realistis.

Bayangan tersebut biasanya berkaitan de-ngan kebutuhan seksual yang membuat mereka tidak berfikir panjang bahwa kenyataannya pernikahan bukanlah seke-dar pelampiasan dan pemenuhan kebu-tuhan seksual. Tetapi lebih dari itu persoalan yang dihadapi begitu kompleks menyangkut persoalan internal dan eks-ternal keluarga, sehingga pernikahan membutuhkan persiapan fisik dan mental.

 

8.       Berdasarkan Susenas 2014 dan Indonesia Socio Economic Survey 2011 menunjukkan:

a.   Gambaran Umum, 4,7 juta anak Indonesia di bawah 18 tahun putus sekolah.

b.  Gambaran disparitas, kemungkinan tidak sekolah bagi anak-anak keluarga termiskin adalah 5 kali lebih besar dari pada anak-anak dari keluarga mampu.

 

9.       Resiko kesehatan

a.   Pengantin muda memiliki keterbatasan akses penggunaan kontrasepsi serta  la-yanan informasi kesehatan reproduksi.

b.  Mayoritas terpapar hubungan seksual pa-da usia awal dan sering serta mengalami  kehamilan berulang dan melahirkan se-belum mereka matang secara fisik dan  psikologis.

c.   Kematian terkait kehamilan merupakan penyebab utama kematian pada perem-puan berusia 15-19 tahun, dan perem-puan berusia di bawah 15 tahun lima kali lebih mungkin meninggal daripada perem-puan berusia di atas 20 tahun.

d.  Kematian bayi dua kali lebih tinggi pada bayi dari ibu yang sangat muda.

e.   Wanita muda hamil dari komunitas yang lebih miskin delapan kali lebih kecil ke-mungkinannya untuk melahirkan dengan bantuan tenaga kesehatan terlatih

 

10.  Resiko kesehatan dari sisi :

a.   Tidak menggunakan kontrasepsi, antara lain karena banyak yang merasa  ditekan oleh  keluarga untuk  membuktikan  kesu-buran mereka  sangat awal dalam 

b.  Tidak menggunakan layanan reproduksi, pengantin anak juga  paling tidak mungkin  menggunakan layanan  reproduksi karena  kekuasaan  pengambilan keputusan  yang terbatas dan  ketergantungan  ekonomi mereka.

c.   Negosiasi rendah, dalam arti tidak dapat  menegosiasikan  penggunaannya  karena takut akan  kekerasan dari  pasangan mereka,  yang sering  cenderung lebih tua.  Peningkatan  kerentanan terhadap HIV/AIDS.

d.  Resiko kekerasan seksual, wanita yang lebih muda, khususnya mereka yang  ber-usia 15-19 tahun,  dengan tingkat  pendi-dikan yang lebih rendah memiliki risiko  kekerasan fisik atau  seksual yang lebih tinggi  yang dilakukan oleh  seorang mitra di semua  negara studi kecuali  Jepang dan Ethiopia.

 

11.  Risiko perkawinan pada anak :

a.   Bagi ibu, rentan terhadap komplikasi pada kehamilan dan persalinan diri. Kemudian putus sekolah, cemas, depresi, terdapat kekerasan rumah tangga, serta rentan tertular HIV/AIDS.

b.  Bagi anak bisa lahir prematur dan kurang gizi. Dapat menyebabkan kematian sebe-lum usia 1 tahun. Yang lebih memperiha-tinkan adalah menikah di usia anak.

12.  Akibat perempuan nikah di usia muda antara lain :

a.   Ibu muda pada waktu hamil cenderung kurang  memperhatikan kehamilannya ter-masuk kontrol kehamilan

b.  Ibu muda pada waktu hamil sering me-ngalami risiko baik bagi Ibu dan janin

c.   Berakibat pada kematian ibu dan bayi

d.  Kehamilan usia muda dapat berisiko men-derita kanker di masa yang akan datang.

 

13.  Akibat kehamilan yang tidak diinginkan

a.   Remaja jadi putus sekolah

b.  Kehilangan kesempatan meniti karir

c.   Orang tua tunggal dan pernikahan tidak terencana

d.  Kesulitan dalam beradaptasi secara psikologis (sulit mengharapkan adanya perasaan kasih sayang)

e.   Kesulitan beradaptasi menjadi orangtua