POKOK-POKOK MATERI

GUBERNUR JAWI TENGAH

ING ADICARA  

PEMBINAAN WAWASAN KEAGAMAAN DAN WAWASAN KEBANGSAAN KEPADA SASARAN DERADIKALISASI

SEMARANG, 5 MARET 2020

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Sugeng enjang lan karaharjan dhumateng kito sekalian;

Ingkang kulo kurmati poro Narasumber, Direktur Deradikalisasi BNPT, Kadubdit Bina Masyarakat BNPT, Bapak Yosep Parera;

Panyarto sosialisasi lan Tamu Undangan ingkang minulyo;

Puji syukur konjuk dumateng Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, Alhamdulillah ing dinten punika kito sedoyo taksih dipun paringi nikmat sehat lan kasempatan sahinggo saget mekempal lan manunggal minongko Pembinaan Wawasan Keagamaan lan Wawasan Kebangsaan dhumateng Sasaran Deradikalisasi ing Provinsi Jawi Tengah.

Bapak, Ibu lan para rawuh sedaya, prelu kulo aturaken bilih yektosipun, saben dinten Kemis, jajaran Pamarintah Provinsi Jawi Tengah dipun prayogakaken ngginaaken Basa Jawi saklebetipun wawan pengandikan ing papan makaryo. Nanging amargi ingkang rawuh mboten sedaya saking Jawi, lan punapa ingkang kulo aturaken kedah saged dipun mangertosi kanthi sae, pramilo saklajengipun kulo badhe matur ngginaaken Basa Indonesia. 

1.       Pada masa ini kebutuhan untuk membahas wawasan kebangsaan menjadi perlu. Sebagai bangsa yang sangat heterogen dengan 250 bahasa daerah dan 17.000 pulau, maka memantapkan wawasan kebangsaan diantara semakin banyaknya permasalahan yang terjadi akhir-akhir ini, seperti intoleransi, radikalisme, terorisme dan arus globalisasi yang membawa nilai-nilai budaya barat yang apatis, hedonis dan materialistik, menjadi hal yang sangat penting.

2.       Masyarakat kita juga dengan mudahnya melontarkan ujaran kebencian, terutama melalui medsos. Dengan gampangnya kata-kata kotor dan bully dilontarkan untuk mencari pembenaran. Belum lagi pabrik-pabrik kebencian, seperti muncul di tengah-tengah kehidupan kita yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa.

3.       Kita patut bersyukur, Alhamdulilah, saat ini secara umum situasi kamtibmas di Jateng relatif aman. Saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut menjaga iklim kondusivitas kehidupan di Jateng. Meski demikian, kewaspadaan harus terus kita tingkatkan karena potensi atas gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat itu selalu ada, khususnya dari gangguan radikalisme dan terorisme. Sampai sekarang organisasi radikal masih terus eksis di Jawa Tengah baik radikal kanan, radikal kiri dan radikal lain.

4.       Kesiapsiagaan terhadap tindak terorisme dan radikalisme harus terus kita tingkatkan. Berbagai langkah antisipatif terus dilakukan Pemprov Jateng. Saya perintahkan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik serta Satpol PP untuk meningkatkan kewaspadaan dan terlibat secara aktif untuk menjaga ketertiban umum, ketentraman masyarakat dan perlindungan masyarakat, khususnya dari ancaman paham radikalisme dan terorisme sesuai dengan SOP yang berlaku.

5.       Langkah lainnya yang kita lakukan adalah dengan meningkatkan intensitas koordinasi dan komunikasi serta mengoptimalkan forum-forum kemitraan masyarakat seperti FKUB, ormas, organisasi kepemudaan, organisasi keagamaan dan berbagai eleman masyarakat lainnya dalam rangka deteksi dini, cegah dini dan penyelesaian potensi gangguan ketertiban umum dan ketentraman serta perlindungan masyarakat.

6.       Menghadapi tindak terorisme dan radikalisme ini, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga telah meningkatkan patroli keamanan di berbagai objek vital dan kantor pemerintah serta meminta kantor-kantor swasta, rumah ibadah, rumah sakit, pusat-pusat keramaian seperti mall dan pasar agar meningkatkan keamanan dan kesiapsiagaanya.

7.       Saya juga meminta agar RT/RW untuk mengaktifkan kembali Sistem Kemanan Lingkungan (Siskampling). RT/RW harus bisa mengidentifikasi warganya dan sekiranya ada warga baru yang tidak dikenali dan mencurigakan agar segera dilaporkan.

8.       Tidak hanya itu, Saya juga terus menggandeng para pemuka agama, alim ulama, dan pesantren untuk terus menjadi agen-agen penebar kedamaian. Upaya - upaya memberikan pemahaman dan meyakinkan masyarakat bahwa terorisme dan radikalisme tidak sesuai dengan ajaran agama harus terus kita lakukan. Sosialisasi bahaya teorisme dan radikalisme harus diselipkan pada setiap kegiatan keagamanaan. Di sinilah pemuka agama, alim ulama, kyai dan para ustad memegang peranan penting dalam upaya perlawanan terhadap terorisme dan radikalisme.

9.       Mengingat terorisme dan radikalisme ini merupakan ekstra ordinary crime, maka menghadapinya juga harus secara extra pula. Terorisme dan radikalisme ini harus kita keroyok bersama. Pemerintah Pusat dan Daerah, TNI, Polri, BIN, BNPT serta seluruh elemen masyarakat, khususnya para mahasiswa dan pemuda bangsa harus bersatu melawan aksi-aksi teror ini.

10.    Selain terkait radikalisme dan terorisme ini ada hal lain yang perlu menjadi perhatian kita bersama. Seperti kita ketahui, tahun ini adalah tahun politik. Tahun ini 21 Kabupaten/Kota di Jateng akan menggelar Pilkada. Ini harus kita jaga bersama. Politik harus menyatukan tidak malah memecah belah. Jangan sampai Pilkada kita malah ribut-ribut. Saatnya persatuan dan kesatuan bangsa dikuatkan.

11.    Oleh karena itu, semangat dan wawasan kebangsaan menjadi penting untuk ditumbuh-kembangkan, karena rasa kebangsaan sebagai manifestasi dari rasa cinta pada tanah air, pada gilirannya membangkitkan kesadaran kita akan arti mahal dan bernilainya rasa kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia.

12.    Rasa dan sikap kebangsaan menjadi penting untuk ditanamkan kepada setiap warga Warga Negara Indonesia. Wawasan kebangsaan hendaknya tidak sekedar retorika yang tak pernah diaktualisasikan dalam kenyataan. Namun wawasan kebangsaan harus benar-benar terealisasi dalam kehidupan nyata sehari-hari.

13.    Maka melalui kegiatan ini mari kita jadikan sebagai momentum untuk mengingatkan kembali betapa pentingnya penyadaran, penanaman dan implemetasi sikap dan perilaku kebangsaan kita tak cuma di bibir semata, tapi harus menjadi perilaku harian kita. Meminjam istilah Bung Karno, Indonesia adalah Negara buat seluruh warganya. Artinya apa, negeri ini bukan cuma milik sekelompok golongan, warna, sikap politik, etnis tertentu saja. Tapi jauh meluas, menjadi milik seluruh rakyat dari sabang sampai merauke tanpa membedakan apapun. Inilah kebhinekaan yang perlu dan harus kita rawat demi dan untuk tegaknya republik ini.

14.    Saya percaya, mayoritas rakyat kita dan seluruh hadirin di sini mencintai NKRI. Bersaudara tanpa SARA. Pada kesempatan yang baik ini, saya mengajak seluruh masyarakat Jawa Tengah, untuk terus meneguhkan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia. Mari kita jadikan Jawa Tengah sebagai benteng Pancasila.

15.    Negeri besar di bawah naungan Pancasila yang bernama Indonesia adalah negara besar. Indonesia besar bukan hanya dalam angka-angka statistik, seperti jumlah penduduk atau suku bangsa maupun kepulauan, tetapi negeri ini juga besar dalam skala permasalahan mendasar yang harus dihadapi setiap saat. Ini perlu dicamkan bukan untuk menggalang chauvinistism tetapi justru untuk membangun kesadaran bertanggung-jawab yang rendah hati bagi seluruh rakyatnya.

16.    Pancasila memang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia, yang terdiri dari beribu-ribu pulau serta bermacam suku, agama, dan ras. Nilai-nilai yang terkandung dalam 5 Sila Pancasila digali dan berasal dari beragam nilai sosial dan kepribadian suku bangsa serta mencakup nilai-nilai agama yang hidup dan berkembang di Indonesia, sehingga bersifat universal dan ke-Indonesia-an.

17.    Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila itu sudah lengkap, dari nilai keagamaan pada sila pertama, nilai kemanusiaan pada sila kedua, persatuan dan kebhinnekaan pada sila ketiga, musyawarah dan mufakat pada sila keempat dan keadilan sosial pada sila kelima. Semuanya juga tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Jadi Pancasila ini bukan hanya konsep yang semu, tetapi sudah menjadi legitimasi hukum yang harus dipedomani dan dilaksanakan oleh seluruh warga negara Indonesia dalam penyelenggaraan negara dan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

18.    Kita harus mampu merawat Indonesia. Berlandaskan Pancasila yang sangat toleran mari menggenggam keberagaman maupun ke-beragamaan. Kita semua percaya dan meyakini Pancasila mampu membawa keduanya menjadi kekuatan besar menuju bangsa yang ber-martabat.

19.    Rasa dan sikap kebangsaan menjadi penting untuk ditanamkan kepada setiap warga Warga Negara Indonesia. Wawasan kebangsaan hendaknya tidak sekedar retorika yang tak pernah diaktualisasikan dalam kenyataan. Namun wawasan kebangsaan harus benar-benar terealisasi dalam kehidupan nyata sehari-hari.

20.    Mari kita tolak dan menangkal paham-paham intoleran yang berkeliaran dan terus menyebarkan kedamaian. Didasari oleh semangat kolektivitas dari seluruh sila dan nilai yang terkandung dalam Pancasila sejatinya mencerminkan ide-ide kolektivitas. Kita tidak boleh lagi mempersoalkan perbedaan keyakinan, perbedaan ras, perbedaan ideologi dalam menenun semangat kebangsaan, dan menyikapi persoalan keindonesiaan. Akan tetapi, yang patut disadari, kita adalah sesama manusia yang senasib sepenanggungan, yang lazimnya harus peduli bersama terhadap tegaknya kedamaian negara ini. Mari kita gunakan momentum ini untuk mengikrarkan persatuan dan kesatuan kita.

Hadirin yang berbahagia;

Demikian yang dapat saya sampaikan pada kesempatan ini. Semoga Allah SWT, selalu meridhoi, melindungi dan memudahkan usaha luhur kita membangun Indonesia.

Sekian dan terima kasih atas kebersamaan ini.

 

Wabillahi taufik wal hidayah.

Wassalamu`alaikum Wr. Wb.

GUBERNUR JAWA TENGAH

 

 

 

 

 

 

H. GANJAR PRANOWO, SH, M.IP