SAMBUTAN

GUBERNUR JAWA TENGAH

PADA

LAUNCHING KOMUNITAS SENIMAN MUDA BATIK

                                                                                SOLO, 2 OKTOBER 2020

 

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua.

 

Yang saya hormati, Walikota dan Forkopimda Kota Surakarta; Jajaran Birokrasi Pemerintah Daerah; Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia; Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo, Ketua Umum Yayasan Batik Indonesia; Kawan-kawan Komunitas Seniman Muda Batik; Panitia, Tamu Undangan, dan Hadirin  yang  berbahagia;

 

Puji syukur Alhamdulillah, kita berkesempatan bersilaturahmi secara on line, menyertai acara Launching Komunitas Seniman Muda Batik, yang merupakan rangkaian kegiatan KENDUREN UMKM (Berkembang dan Berinovasi di Masa Pandemi Melalui Pemanfaatan Teknologi Modern), dengan tema “Batik untuk Kehidupan: Dulu, Masa Kini, dan Masa Depan”.

Membatik, sejatinya bukan sekedar meng-goreskan canting ke selembar kain, membubuhkan paduan warna yang harmoni sehingga tercipta sebuah kain bermotif nan indah. Selama ini, batik banyak dibahas dari sisi asal muasalnya, keragaman motif, teknik batikan, pewarnaan, pelestarian, maupun pengembangannya sebagai komoditas industri. Padahal, batik lebih dari apa yang terlihat. Sehelai kain batik mengajarkan kita tentang banyak hal. Batik adalah tentang keselarasan. Keselarasan warna, motif dan pola berulang, yang terjaga. Batik adalah tentang konsistensi. Konsistensi dan keuletan dalam menghasilkan karya terbaik. Batik juga mengajar-kan pentingnya mengedepankan kualitas.

Batik mengajarkan kita bahwa kualitas adalah kunci menggapai keunggulan. Artinya, kesuksesan tidak diraih dengan instan, tetapi dengan proses panjang dan perjuangan tanpa kenal lelah. Tidak ada jalan pintas dalam membatik. Untuk meng-hasilkan kain batik berkualitas, ada proses panjang, mulai dari ngemplong (mencuci kain mori), nyorek/mola (menjiplak atau membuat pola) mbathik (menorehkan malam batik ke kain mori), nembok (menutupi bagian-bagian yang tidak boleh terkena warna dasar), medel (pencelupan kain yang sudah dibatik ke cairan warna secara berulang-ulang), ngerok dan mbirah (ngerok kain secara hati-hati dengan menggunakan lempengan logam), kemudian mbironi (menutupi warna biru dan isen-isen pola), menyoga (mencelupkan kain ke dalam campuran warna cokelat dari soga), hingga nglorod (melepaskan seluruh malam/lilin dengan memasukkan kain yang sudah cukup tua warnanya ke dalam air mendidih, dibilas dengan air bersih, dan diangin-arginkan hingga kering).

Bapak-Ibu, batik merupakan warisan budaya nusantara yang mempunyai nilai dan perpaduan seni yang tinggi, sarat dengan makna filosofis dan simbol yang mencerminkan cara berpikir masya-rakat pembuatnya. Batik adalah ekspresi budaya yang memiliki nilai estetika yang tinggi bagi masyarakat Indonesia. Keunikan yang indah itu merupakan salah satu pembentuk karakter bangsa Indonesia yang membedakan kita dengan bangsa lain sehingga dapat menjadi identitas dan jati diri bangsa. Keberadaan batik sebagai identitas dan warisan budaya bangsa Indonesia semakin diakui sejak ditetapkannya batik sebagai world heritage oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009, sehingga Pemerintah Indonesia menetapkan tanggal            2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional.

Saat ini koleksi batik semakin beragam, baik jenis bahan mapun coraknya. Ada yang bahan dasarnya katun, rayon, rami, sutra, bahkan serat alam. Demikian pula pemakaian dan modelnya juga tidak terbatas pada busana resmi seperti pakaian kerja, akan tetapi dalam skala kehidupan yang lebih luas, seperti busana casual, busana pesta, maupun busana sehari-hari. Ragam batik di bumi Nusantara memiliki keunikan dan karakteristiknya masing-masing, sehingga semakin menambah pilihan pemakaian busana batik. Di Jawa Tengah, kita punya Batik Pekalongan, Solo, Pati, Semarangan, Wonogiren, Lasem, Banyumasan, dan di Klaten ada Batik Tembayat. Masing-masing motif memiliki ciri khas yang menjadi simbolisasi potensi daerah.

Semua itu merupakan kearifan lokal Jawa Tengah yang adi luhung, yang harus terus kita lestarikan. Penghargaan masyarakat terhadap nilai kearifan lokal ini menjadi kunci penting dalam rangka mempertahankan budaya batik. Masyarakat yang memilih nilai daripada harga, produsen yang lebih menghargai para pengrajin, dan para peng-rajin yang mau melakukan modifikasi atas motif-motifnya.

Keberadaan Komunitas Seniman Muda Batik, saya harap mampu menjadi salah satu pasukan pelestari Batik, yang terus bergerak melakukan ’action’ agar batik semakin diminati dan dicintai semua kalangan. Pada skala yang lebih luas, pelestarian batik sebagai kearifan lokal ini, harus disandingkan dengan selera masyarakat. Kalau berbicara pengembangan batik di era ini adalah bicara kreativitas dan inovasi, bicara kualitas dan desain. Disamping motif yang pakem seperti Sidomukti, Sekar Jagad, Wahyu Tumurun, Parang Kusuma, Batik Lasem, dll, harus ada desain batik yang inovatif, mengikuti perkembangan zaman. Sesekali perlu juga desain yang atraktif yang menyentuh selera anak muda. Seiring dengan pengembangan batik, satu hal yang harus diingat Unit Pengolahan Limbah (UPL) produksi batik harus dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan permasalahan lingkungan.

Bapak-Ibu, dan kawan-kawan yang saya hormati;

Demikian yang dapat saya sampaikan pada kesempatan ini. Selanjutnya dengan mengucap Bismillaahirrohmaannirrohiim, Komunitas Seniman Muda Batik, secara resmi saya launching.

SELAMAT BERKARYA.

Sekian, terima kasih.

Wabilahittaufiq wal hidayah.

Wassalamualaikum Wr.Wb.

 

                                                GUBERNUR JAWA TENGAH

 


                                                H. GANJAR PRANOWO, SH., M.IP