SAMBUTAN

GUBERNUR JAWA TENGAH

PADA

“KAMPANYE PERLINDUNGAN KEANEKARAGAMAN SUMBER DAYA GENETIK  (SDG) JAWA TENGAH”

MELALUI

DIALOG INTERAKTIF DAN DEKLARASI PERLINDUNGAN SUMBER DAYA GENETIK

JAWA TENGAH

KEBUMEN, 30 NOVEMBER 2019

 

 

          Assalamu’alaikum Wr. Wb.

         Salam sejahtera untuk kita semua dan saya ucapkan selamat siang

 

Yang saya hormati Bupati Kebumen dan jajar-annya;

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah;

Peserta Dialog dan Penggiat Program Kampung Iklim (Proklim);

 

        Hadirin yang saya banggakan;

       Teriring rasa syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, Alhamdulillah atas nikmat sehat dan kesempatannya, sehingga kita masih dapat bersi-laturahmi di Pantai Petanahan Kebumen, me-nyertai Kampanye Perlindungan Keanekara-gaman Sumber Daya Genetik  (SDG) Jawa Tengah Melalui Dialog Interaktif dan Dekla-rasi Perlindungan SDA Jawa Tengah”, melalui Peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) Tahun 2019 . Berbicara tentang SDG itu, boleh dibilang Jateng itu gudangnya.

Saya sampaikan demikian karena dari luas wilayah Provinsi Jateng 3.254.412 Ha atau setara 25,04%, SDG kita sangat beragam. Dari yang ukuran besar disebut ruminasia besar, kita punya sapi Peranakan Ongole (PO) Kebumen, Sapi Jawa Brebes, Sapi PO Rembang. Sedangkan ruminasia kecil antara lain Kambing Kacang, Kambing Kejobong, Kambing PE Kaligesing, Domba Batur, Domba Wonosobo. Bahkan unggaspun sangat beragam, ada Itik Tegal, Itik Magelang, Ayam Kedu). Belum lagi terkait tanaman pangan, kita punya tanaman hortikultura seperti Alpukat Bo-jong, Manggis Lalijiwo, Carica, Durian Sukun, Ke-puh, Kesemek, Kelapa Genjah Entog, dll. Terkait tanaman biofarmaka kita juga tak kurang kaya lho, ada Purwoceng, Kemukus, Cabe Jawa. Untuk pantaipun, beragam mangrove, sampai pohon Plahlar Gunung yang bersifat endemik, kita punya.

Terkait hal tersebut, maka di sinilah ke-banggaan terhadap kekayaan genetik tersebut hendaknya diaplikasikan secara nyata. Salah satu dengan melindungi supaya tidak sampai punah. Kalau memungkinkan, tanamlah berbagai jenis tanaman tersebut, bisa di halaman rumah, taman PKK, taman Program Kampung Iklim (Proklim) dan lingkungan masing-masing. Dengan demikian dapat meminimalisir kepunahan, baik di habitat aslinya akibat eksploitasi hutan dan lahan yang berlebihan, kerusakan lingkungan., maupun

Apalagi mengingat tanaman dan biofarmaka yang saya sebutkan tadi, termasuk mudah hidup di lahan apapun, yang penting perawataan. Bahkan buahnya juga dibisa diolah menjadi “sesuatu”, baik makanan/minuman atau produk lain seperti keterampilan. Sudah banyak contoh, seperti carica yang dibuat manisan dan sirup, manggis dibuat ekstrak, dll. Perlu saya sampaikan, sabut kelapa juga itu juga diminati luar negeri sebagai bahan jok mobil/kasur, tentunya diolah dulu.    

Maka ayuk, kita bareng-bareng cintai, nandur lan ngopeni, serta mengolah kekayaan yang ada. Kalau perlu hasil olahannya juga didaftakan ke Kemendikbud sebagai kekayaan tak benda, sehingga tidak diklaim Negara lain.

Kami, Pemprov Jateng juga memberi ruang kepada masyarakat untuk berkontribusi nyata menyumbang pokok ide, gagasan, pikiran untuk kelestarian keanekaragaman SDG. Salah satunya melalui keterbukaan akses informasi dan doku-mentasi, sehingga membuka kesempatan dan me-munculkan ide, kreasi, apresiasi  bagi masyarakat. Pemprov Jateng berharap masyarakat turut aktif mengamankan, melindungi, memelihara, dan ngrembaaken SDG yang ada. Tercakup di dalam- nya melalui publikasi informasi mengenai invent-tarisasi, pemeliharaan, dan penyelamatan SDG.

Publikasi melalui teknologi informasi dan me-dia sosial (medsos) dapat membantu pengamanan dan penyelamatan SDG. Dengan demikian tidak hanya dikenal di wilayah Jateng dan NKRI ini, melainkan juga di kancah internasional. Melalui hal tersebut diharapkan menjadi langkah nyata  pem-belajaran, serta penyelamatan keanekaragaman hayati yaitu puspa dan satwa dari ancaman perdagangan liar, perburuan dan penyelundupan puspa dan satwa endemik. Hal ini selaras dengan tema HCPSN Tahun 2019, yaitu “Membangun generasi milenial cinta puspa dan satwa nasional untuk Indonesia Unggul”. 

Terkait hari ini ada penyerahan Trophy dan Sertifikat Utama Proklim, saya sampaikan “Se-lamat”. Penghargaan tersebut mudah-mudahan semakin memacu dan memicu panjenengan se-mua untuk semakin aktif melakukan kegiatan adaptasi dan mitigasi di lingkungan masing-masing.  Teruslah lakukan aksi nyata agar alam ini lebih lestari.

Tolong dipahami, proklim itu bukan lomba. Melainkan potensi yang dijawab dengan aksi. Jadi kalau misalnya di tempat saudara berpotensi sampah, maka lakukanlah telung Ng. Setidaknya diawali dengan ngelongi sampah pribadi dengan senantiasa membawa thumbler dan tepak untuk mengurangi plastik sekali pakai. Ngolah dengan menjadikan sampah sebagai barang yang ber-guna. Anorganik dibuat kerajinan dan organik di-buat pupuk. Kemudian juga nganggo, maka tak perlu malu menggunakan barang kerajinan dan kompos buatan sendiri. Itu lebih OK ! 

Bapak dan Ibu yang saya banggakan;

Mengakhiri sambutan ini ayuk sesarengan kita bangun Jawa Tengah, dimulai dari diri kita sendiri. Membangun jiwa kita dengan mengurangi sampah dan menyelamatkan SDG. Membangun raga de-ngan dengan pola hidup sehat sehingga mampu berkontribusi secara nyata.

Sumangga semua komponen yang hadir di hari ini saling berkolaborasi demi Jawa Tengah yang lebih dan maju. Ada Komisi Daerah (Komda) perlindungan SDG, lembaga konservasi, pelajar, pramuka termasuk Saka Kalpataru dan Wana-bhakti, kelompok masyarakat, pegiat lingkungan, pelaku usaha, UPT Pemerintah pusat serta daerah, dll, ayuk sesarengan memberikan perlindungan kepada SDG.

Itu saja yang perlu saya sampaikan pada kesempatan ini. Semoga bermanfaat.

Sekian, dan terima kasih.

       Wabillahitaufik wal hidayah,

        Wassalammu’alaikum Wr. Wb.

 

GUBERNUR JAWA TENGAH

 

  H. GANJAR PRANOWO, SH, M.IP