SAMBUTAN

GUBERNUR JAWA TENGAH

PADA

GELAR BUDAYA KENDENGSIDIALIT

JEPARA, 1 DESEMBER 2019

 

 

         Assalamu’alaikum Wr.Wb.

         Salam sejahtera untuk kita semua;

         Dan saya ucapkan selamat siang.

 

Yang saya hormati Bupati Jepara;

Petinggi Desa Kendengsidialit;

 

         Masyarakat Kendengsidilait dan Hadirin        yang saya banggaklan

 

 Dalam suasana siang hari ini, saya sungguh bersyukur atas nikmat sehat dan kesempatan dari Tuhan Yang Maha Esa, sehingga kita dapat saling menyapa pada acara  “Gelar Budaya Desa Ken-dengsidialit”. Rak inggih sami sehat to? Mestine yo sehat, uwong nyatane saged rawuh di acara ini dengan fokus pada “Kirab Seribu Ingkung”.

Wow, ora baen-baen. Sewu ingkung kuwi ora sithik lho. Dan ini tentu menambah semangat tersendiri menyaksikan masyarakat guyub anggone nguri-uri kabudayan, dengan acara-acara yang unik. Maka dalam benak saya, wingi kuwi panjenengan akeh sing ngoyak pithik. Ngoyak ora kudu playón apa meneng ing petarangan, nanging ngoyak anggone masak supaya hari ini bisa disajikan.

 Saya sampaikan demikian karena setahu saya, masak ingkung secara adat Jawa itu lebih unik dan rumit. Bahan ayam adalah ayam Jawa yang konon merupakan simbol memasyarakat. Selain sebagai he-wan peliharaan, ayam juga bisa sebagai sumber kesehatan dan pendapatan. Telur dan dagingnya bisa dikonsumsi atau dijual.

Masak ingkung adalah ayam wutuh dari kepala sampai kaki. Tentu lebih rumit karena harus mencan-cang antara kepala dan ceker supaya menyatu. Kata mbah-mbah, itu juga simbol keutuhan dan kesatuan antara pikiran (disimbolkan kepala) hingga tindakan (kaki). Terkait ingkung konon katanya dari kata manengkung” yang berarti memanjatkan doa kepada Tuhan dengan kesungguhan hati.

Terkait hal tersebut, maka kegiatan ini hendak-nya juga dilakukan sebagai kesatuan utuh. Dalam arti untuk wujud syukur pada Gusti Allah, atas segala limpahan berkah pada alam dan Sumber Daya Manusia (SDM) di desa ini, juga untuk syiar  budaya. Maka akan lebih bagus lagi kalau alas makan juga dari bahan alam, seperti pincuk atau besek. Selain menunjukkan kembali ke alam, juga menambah kekhasan Desa Kendengsidialit.

Pada sisi lain, kegiatan tersebut juga berdaya-guna untuk memperkenalkan kebudayaan Kendeng-sidialit dengan segala potensinya. Maka, di sinilah pentingnya upaya diversifikasi tanpa meninggalkan yang asli. Contoh, bisa jadi ingkungnya dimodifikasi dalam rasa. Ada rasa keju, rasa barbeque, rasa pedas, dll. Bisa pula dikolaborasi dengan keunikan lain khas desa ini. Misal di sini banyak glandir, maka ingkung lalap glandir, dll. Hal tersebut bisa untuk menambah keunikan.

       Mendukung hal tersebut maka packaging juga harus menjadi perhatian. Umpamane tampah, tidak semua beralas daun pisang. Silahkan kolaborasi dengan bahan alam lain, seperti daun jati, daun kol banda, dll. Bahkan akan lebih bagus kalau daun alas ingkung juga bisa untuk lalapan. Keren khan ? Maka, di sinilah pentingnya upaya diversifikasi tanpa me-ninggalkan yang asli.

Dan dalam upaya agar desa ini lebih terkenal, silahkan optimalkan media online. Share kegiatan ini dari segala sisi, baik awal kegiatan, saat dan usai kegiatan dengan segala nilai-nilai positifnya. Dengan demikian dapat mengingatkan semua pihak termasuk masyarakat, bahwa kita itu bangsa yang berbudaya. Maka sudah semestinya kalau berbagai tradisi digalakkan supaya masyarakat sadar kita itu kaya akan potensi kearifan lokal.

Untuk itu, saya tantang masyarakat Desa Ken-dengsidialit supaya tak hanti gumregah dan ndudah, nguduk menata desanya. Kesenian tradisonal, rumah penduduk, keadaan desa, hingga kulinerpun supaya dikemas sedemikian rupa. Membangun jejaring dan teknologi tepat guna dalam mengolah makanan dan cinderamata, adalah beberapa hal yang bisa dikemas untuk mendu-kung kegiatan gelar budaya desa yang ada. Ini akan memberi nilai tambah, dan inilah komo-difikasi. Selain  itu jangan pernah menghilangkan soal keramahtamahan masyarakat, penyiapan transportasi yang memadai, penginapan yang layak, dan lain-lainnya sebagai penunjang Sapta Pesona Pariwisata.

Hadirin yang saya hormati;

Itu saja yang dapat saya sampaikan pada kesempatan ini. Semoga bermanfaat.

Selanjutnya dengan mengucap Bismillaahir-rohmaannirrohiim, ”Gelar Budaya Desa Ken-dengsidialit”, secara resmi saya BUKA dan DI-MULAI.

Sekian dan terima kasih.

Wabillahitaufik wal hidayah

       Wassalamu`alaikum Wr.Wb.

       

 

                                         GUBERNUR JAWA TENGAH

 

 

 

                                          H. GANJAR PRANOWO, SH, M.IP