MATERI

GUBERNUR JAWA TENGAH

                                                                                                              PADA  ACARA

KAMPANYE STOP KEKERASAN DAN BULLYING

SEMARANG, 30 NOVEMBER 2019

 

Assalamu'alikum Wr. Wb;

Selamat pag dan salam sejahtera

untuk kita semua

 

Yang saya hormati Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Jawa Tengah;

Segenap elemen masyarakat yang hadir;

 

Hadirin yang berbahagia;

1.        PENDAHULUAN

Alhamdulillah pagi ini kita masih diberi nikmat sehat dan kesempatan, sehingga dapat bersama-sama hadir di Gedung Gradhika Bhakti Praja Jateng, menyertai ”Kampanye Stop Kekerasan Dan Bullying”. Hal ini sekaligus sebagai bentuk keprihatinan atas maraknya kekerasan terhadap perempuan, terlebih anak-anak. Oleh karenanya tema kegiatan ini yaitu “Jateng Gayeng Bocahe Seneng”.

 

MATERI

1.          Data yang bersumber dari DP3AP2KB Provinsi Jawa Tengah menunjukkan, jumlah anak korban kekerasan di tahun 2018 sebanyak 1.274 orang dan data per bulan Juli 2019 sebanyak 549 orang.  Sementara itu data Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) tahun 2017 sebanyak 20.779 orang.

2.          Perlu pula diketahui, data HIV AIDS tahun 2017 usia 0-5 tahun sebanyak 231 orang, usia 5-14 tahun sebanyak 285 orang, usia 15-18 tahun sebanyak 83 orang.

3.          Yang lebih memperihatinkan, ada fenomena lain yang terungkap, yaitu anak sebagai pe-laku kekerasan jumlahnya semakin mening-kat pada setiap tahunnya. Anak pelaku juga pernah mengalami kekerasan.

4.          Sementara itu anak yang Berkonflik dengan hukum tahun 2018 sebanyak 453 orang. Fenomena bullying juga sering dialami oleh anak-anak dan dampak dari bullying cukup mengkhawatirkan.

5.          Survei Tahun 2018 menunjukkan, 2 dari 3 anak (usia 13-17 tahun) pernah mengalami kekerasan. Sebanyak 46% korban menga-lami kekerasan sexual. Berdasarkan tingkat Pendidikan korban, 30% dialami oleh anak-anak SMP, sedangkan 29% dialami oleh anak-anak SD.

6.          Yang memperihatinkan, kota yang angka kekerasannya tertinggi yaitu Kota Semarang, ibukotanya Jawa Tengah.

7.          Terkait hal tersebut, berbagai upaya lebih kami fokuskan pada penanganan keluarga dan anak yang rentan dan beresiko atau sudah menjadi korban kekerasan. Semen-tara upaya terkait memperkuat tataran sosial seperti norma sosial, sikap, perilaku serta keterampilan orang tua dan masya-rakat tentang dampak buruk kekerasan terhadap anak belum maksimal.

8.          Pemerintah berkomitmen menurunkan ang-ka kekerasan terhadap anak dengan me-nyiapkan program, strategi. Salah satunya dengan melaksanakan kegiatan Kampanye Anti Kekerasan dan Bullying terhadap Anak di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2019 dengan Tema “Stop Kekerasan dan Bullying terhadap Anak, Ayo Peduli”.

9.          Untuk menyelenggarakan pelayanan ter-hadap korban, pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan fungsi dan tugas masing-masing, telah melakukan upaya Pe-nyediaan ruang pelayanan khusus di kantor kepolisian; Penyediaan aparat, tenaga kesehatan, pekerja sosial, dan  pembimbing rohani; Pembuatan dan pengembangan sistem dan mekanisme kerja sama program pelayanan yang melibatkan pihak yang mudah diakses oleh korban; dan memberi-kan perlindungan bagi pendamping, saksi, keluarga dan teman korban.

10.      Untuk menyelenggarakan hal tersebut pe-merintah dan pemerintah daerah sesuai dengan fungsi dan tugas masing-masing, dapat melakukan kerja sama dengan masyarakat atau dengan lembaga sosial lainnya.

11.      Selain itu, ada pula kebijakan terintegrasi untuk pemenuhan dan perlindungan anak seperti Kabupaten/Kota Layak Anak. Namun demikian dari hasil konsultasi anak dan studi di Jawa Tengah menunjukkan bahwa selain norma hukum, kekerasan pada anak ber-kaitan dengan norma sosial termasuk pola pengasuhan, perilaku sosial dan aspek-aspek lain termasuk perkembangan tekno-logi informasi dan masalah ekonomi. 

12.      Selain itu, Pemerintah juga berupaya men-jadikan semua lingkungan anak menjadi lingkungan yang ramah anak bebas dari segala bentuk kekerasan termasuk diskri-minasi khususnya di lingkungan sekolah (Sekolah Ramah Anak).

13.      Hal tersebut saya sampaikan, karena meski masyarakat tidak setuju dengan kekerasan pada anak tapi tidak tahu dan tidak mau melakukan sesuatu untuk mencegah terjadinya kekerasan pada anak.

14.      Padahal peran masyarakat terlebih keluarga sangat penting dalam menjaga, mengawasi, memperhatikan proses tumbuh kembang anak, dan memberikan pola pengasuhan yang penuh kasih sayang terhadap anak-anak agar semua hak-hak mereka dapat terpenuhi.

15.      Kita bertanggung jawab untuk memper-hatikan anak-anak sehingga mereka dapat dipersiapkan untuk menjadi generasi yang berkualitas guna melanjutkan pembangunan Indonesia ke depan.

16.      Oleh karena itu, gerakan masif dari peme-rintah, dunia usaha, seluruh lapisan masyarakat, dan stakeholders terkait sangat diperlukan.

17.      Kini saatnya kita lebih peduli terhadap anak agar Indonesia menuju Indonesia layak anak atau ramah anak. Salah satunya dengan menyebarluaskan pengetahuan dan infor-masi tentang hak-hak anak, perlindungan kepada anak dari segala macam  kekerasan. Masyarakat bisa secara indi-vidu maupun melalui kelompok/organisasi masya-rakat ikut serta dalam layanan-layanan yang tersedia.

18.      Bahkan, media juga bisa menjadi agen perubahan dalam perlindungan anak dengan partisipasi aktif membangun pemahaman publik tentang hak-hak anak dan Perlin-dungan anak. Mari selamatkan anak dari predator-predator anak, tegakkan hukum bagi pelaku kekerasan terhadap perempuan dan anak.

19.      Mendukung hal tersebut, ayuk berusaha menghargai anak dan bersikap adil, dengan cara menciptakan suasana hangat dan penuh kasih sayang. Kita beri penghargaan bila anak melakukan perbuatan terpuji dan beritahu kesalahannya bila melakukan tindakan tidak baik. Dengan demikian anak belajar menghargai orang lain, terutama orang tuanya.

20.      Mari kita dengarkan keluhan anak, pahami perasaan dan dengarkan penolakan serta keluhannya. Kalaupun tidak setuju dengan perilaku anak yang tidak baik, upayakan dengan kata-kata yang tidak menghakimi, melainkan ajak berbuat baik, berupaya lebih akrab dengan membina hubungan yang lebih hangat dan akrab dengan anak, sehingga anak akan menjadi lebih terbuka pada orang tua.

21.      Yang penting, berusaha menjadi  contoh bagi anak dalam menanamkan nilai-nilai moral  dan sosial yang berlaku. Dunia anak adalah dunia yang penuh kegembiraan dan keceriaan, karena itu kekerasan bukanlah cara yang tepat untuk menghadapi perempuan dan anak-anak. Maka, ayuk kita bertanya setiap hari tentang hal-hal yang menyenangkan dan yang menyedihkan pada hari ini di rumah, sekolah maupun di ling-kungan sosial anak

 

PENUTUP

        Mengakhiri bincang-bincang kita pagi ini, dan untuk menjamin anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal, bahwa Pemerintah Indonesia telah menerbitkan kebijakan dan program yang mendukung pemenuhan hak dan perlindungan anak.

Oleh karena itu mari kita dukung penga-suhan anak yang berkualitas. Akhiri kekerasan terhadap perempuan, kekerasan terhadap anak sekarang juga. Dukungan yang masif dari seluruh kepentingan, pemerintah, lembaga masyarakat sehingga anak terpenuhi hak-haknya begitu juga perempuan.

Inilah sedikit yang dapat saya sampaikan. Mudah-mudahan bermanfaat. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa membimbing dan meridhoi usaha luhur kita.

Sekian dan terima kasih atas perhatiannya.

Wabillahitaufik wal hidayah

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

 

GUBERNUR JAWA TENGAH

 

 

  H. GANJAR PRANOWO, SH, M.IP