POKOK-POKOK MATERI

GUBERNUR JAWA TENGAH

PADA

RAPAT KOORDINASI PENANGGULANGAN PENCEMARAN PADA SUNGAI BENGAWAN SOLO

SEMARANG, 3 DESEMBER 2019

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua.

 

PENGANTAR

Yang saya hormati, Pangdam IV Diponegoro dan Kapolda Jateng; Kementerian terkait; Jajaran Birokrasi Pemprov Jawa Tengah, Pemprov Jawa Timur, dan Kabupaten/Kota sekitar Bengawan Solo; serta Stakeholders terkait (Kalangan Akademisi, Perum Jasa Tirta I, Kepala Perum Perhutani Divre Jawa Tengah, Ketua Forum DAS Provinsi Jawa Tengah, Ketua Forum DAS Bengawan Solo, Presidium Kongres Sungai Indonesia, Perwakilan Dunia Usaha dan UMKM); Peserta Rakor yang berbahagia;

 

Saya sampaikan terima kasih atas kehadirannya dalam Rapat Koordinasi Pe-nanggulangan Pencemaran pada Sungai Bengawan Solo.

Sungai Bengawan Solo merupakan sungai terbesar di Pulau Jawa, dan mengalirkan air dari daerah aliran sungai (DAS) seluas ± 16,100 km2, mulai dari Pegunungan Sewu di sebelah barat-selatan Surakarta, ke laut Jawa di utara Surabaya melalui alur sepanjang ± 600 km. Luar biasa. Namun kondisi eksisting banyak terjadi pencemaran, sehingga fungsi DAS Bengawan Solo tidak optimal.

Oleh karena itu, melalui Rakor ini saya berharap kita dapat menyamakan persepsi terkait percepatan penanganan pencemaran Sungai Bengawan Solo serta membangun sinergitas antara Pemerintah (Pusat, Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten/Kota Terkait), dunia usaha, dan stakeholders terkait. Melalui Rakor ini, nanti kita lakukan identifikasi sebaran sumber pencemar dari Industri Menengah/Besar, UMKM Alkohol/Ciu, batik, tahu dan ternak babi. Selanjutnya, juga membangun mekanisme penguatan pengawasan terhadap izin usaha dan penguatan kelembagaan kelompok UMKM. Terpenting, perumusan aksi nyata pengendalian sumber pencemar dan pengelolaan kualitas air Sungai Bengawan Solo.

 

I.    PETA PERMASALAHAN SUNGAI BENGAWAN SOLO

 

A. Bengawan Solo pada wilayah Solo Raya

1.  Banyak usaha/kegiatan kategori UMKM tersebar di sekitar DAS Bengawan Solo, yang air limbahnya tidak terolah dan dibuang langsung ke lingkungan. Usaha/kegiatan tersebut diantaranya :

a.  Terdapat 142 usaha/kegiatan Alkohol/ Ciu yang berada di Kecamatan Polokarto dan Mojolaban Kab. Sukoharjo, 10 pengrajin batik di Ds. Tegalmade dan Ds. Laban, Kec. Mojolaban, Kab. Sukoharjo;

b.  13 UMKM tahu di Kel. Jebres, Kec. Mojosongo, 17 UMKM batik di Kel. Sondakan, 21 UMKM batik di Kel. Laweyan, Kec. Laweyan dan 34 UMKM batik di Kec. Pasar Kliwon Kota Surakarta;

c.   76 UMKM batik di Desa Pilang dan 20 UMKM di Desa Kliwonan, Kec. Masaran, Sragen;

d.  9.189 ekor babi di Kec. Jaten, Kab. Karanganyar.

2.  IPAL Komunal yang sudah terbangun dan sudah diserahkan ke Kelompok rusak/tidak dioperasionalkan secara optimal/tidak mengolah seluruh air limbah dari sebaran pengrajin yang ada. IPAL dimaksud :

a.    Ada 3 IPAL Komunal alkohol rusak di Kec. Mojolaban dan Polokarto, Kab. Sukoharjo;

b.    Ciunik sebagai produk pupuk cair dari hasil olahan limbah Ciu tidak berjalan karena sulitnya pemasaran;

c.    Sejumlah 3 IPAL biogas tahu kurang berfungsi optimal dan 1 IPAL tahu lainnya masih  berfungsi di Kec. Mojosongo di Kota Surakarta;

d.    Ada 1 IPAL komunal Batik kurang berfungsi secara optimal di Kelurahan Sondakan, Kota Surakarta (hanya untuk mengolah air limbah dari 7 UMKM yang seharusnya terdapat 17 UMKM, karena faktor teknis dan ketersediaan lahan);

e.    Juga 1 IPAL Komunal Batik kurang berfungsi secara optimal di Kel. Laweyan, Kota Surakarta (hanya untuk untuk mengolah air limbah dari 7 UMKM yang seharusnya terdapat 21 UMKM, karena faktor teknis dan ketersediaan lahan);

f.     Terdapat 3 IPAL Komunal batik tidak berfungsi, 1 IPAL berfungsi kurang optimal di Desa Pilang, Kab. Sragen dan 1 IPAL komunal batik di Desa Kliwonan Kab. Sragen berfungsi kurang optimal. 

3.  Beberapa Industri besar terindikasi melakukan pembuangan air limbah secara langsung ke badan air;

4.  Dampak dari pembuangan tersebut :

a.    Sungai Begawan Solo (Intake PDAM Semanggi) Cemar Sedang s/d Cemar Berat;

b.    Sungai Begawan Solo (Intake PDAM Cepu) Cemar Ringan;

c.    Sungai Samin sebagai anak sungai Bengawan Solo masuk kategori Cemar Berat.

  

B. Bengawan Solo pada wilayah Blora

1.  Air sungai Bengawan Solo pada wilayah Kab. Blora berwarna coklat keruh dan tidak bisa di manfaatkan oleh PDAM untuk diolah sebagai air baku;

2.  Perlu identifikasi lebih mendalam terhadap kualitas air yang ada di Cepu (Kab. Blora) karena hasil pengamatan visual terhadap air sungai bengawan solo di Kab. Sragen yang berbatasan dengan Kab. Ngawi menunjukkan fisik relatif baik (jernih), sementara ruas sungai Bengawan Solo antara Kab. Ngawi sampai dengan Cepu (Kab. Blora) terdapat input dari beberapa anak sungai yang masuk ke Bengawan Solo;