POKOK-POKOK MATERI

GUBERNUR JAWI TENGAH

ING ADICARA

RAPAT REMBUG NASIONAL

 “MEMBANGUN KEMADIRIAN, DAYA SAING DAN KELESTARIAN PERTEMBAKAUAN BERBASIS BUDAYA NASIONAL”

SURABAYA, 5 DESEMBER 2019

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Sugeng enjang lan karaharjan dhumateng kito sekalian;

Ingkang kulo urmati Para Narasumber;

Rencang-Rencang saking Kementerian, Pemerintah Kabupaten/Kota, Pangarso,  Stakeholder Pertembakauan;

Undangan lan hadirin ingkang minulyo;

Puji syukur konjuk ing ngarsanipun Allah SWT, Alhamdulillah enjing punika kita taksih pinaringan kasarasan lan kawilujengan sahengga saged sesarengan hangastreni adicara, Rapat Rembug Nasional kanthi irah-irahan, “Membangun Kemadirian, Daya Saing Dan Kelestarian Pertembakauan Berbasis Budaya Nasional”

Bapak, Ibu lan para rawuh sedaya, prelu kulo aturaken bilih yektosipun, saben dinten Kemis, jajaran Pamarintah Provinsi Jawi Tengah dipun prayogakaken ngginaaken Basa Jawi saklebetipun wawan pengandikan ing papan makaryo. Nanging amargi ingkang rawuh mboten sedaya saking Jawi, lan punapa ingkang kulo aturaken kedah saged dipun mangertosi kanthi sae, pramilo saklajengipun kulo badhe matur ngginaaken Basa Indonesia.  

1.       Seperti sudah kita ketahui bersama, Pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia nomor 152 /PMK.010/2019 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Keuangan nomor 146/pmk.010/2017 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau, menaikkan tarif cukai hasil tembakau sebesar 21,55% untuk tahun 2020. Angka ini di bawah kenaikan tarif yang diumumkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebesar 23% di Istana, beberapa waktu yang lalu. Secara rerata, tarif CHT Sigaret Keretek Mesin (SKM) naik sebesar 23,29%, Sigaret Putih Mesin (SPM) naik 29,95%, dan Sigaret Keretek Tangan (SKT) atau Sigaret Putih Tangan naik 12,84%. Kebijakan cukai rokok nantinya akan dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan, sehingga Kementerian Keuangan melakukan analisis mendalam.

2.       Pemerintah menetapkan kebijakan cukai rokok ini dengan memperhatikan tiga dimensi.  

Ø Pertama, kebijakan cukai adalah alat mengendalikan konsumsi. Rokok diasosiasikan dengan berbagai penyakit. Namun secara legal tiap orang memiliki hak untuk merokok. Sehingga, pemerintah tidak melarang individu untuk merokok, namun pemerintah harus meng-endalikan konsumsinya. Pengendalian rokok ini dinyatakan dalam Undang-undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai. Pengendalian konsumsi menjadi penting karena 70% penduduk berjenis kelamin pria merupakan perokok. Sedangkan, pertumbuhan tertinggi kelompok merokok berasal dari kalangan perempuan dan anak-anak. Bila kalangan anak atau remaja telah memulai merokok, sifat rokok yang adiktif akan meningkatkan probabilita mereka merokok sepanjang hidup.

Ø Kedua, kebijakan cukai juga sangat penting bagi perkembangan industri rokok. Industri rokok sangat besar di Indonesia. Beberapa orang terkaya di Indonesia mendapatkan kekayaannya dari hasil tembakau. Saham rokok juga penting di Bursa Efek Indonesia.  Industri besar tentu memiliki keterkaitan tinggi dengan nasib buruh, petani, pedagang, pengecer, bahkan juga pemain bursa dan sektor keuangan. Industri rokok ini juga sangat beragam, dari industri lintingan tangan yang diproduksi di rumah, sampai dengan industri besar yang menggunakan mesin yang sangat canggih. Berapa total rokok yang diproduksi di Indonesia? Total produksi pada 2018 sebanyak 330 miliar batang setahun. Jumlahnya yang miliaran itu menggambarkan industri ini penting bagi perekonomian Indonesia.

Ø Dimensi Ketiga, terkait dengan penerimaan negara. Dengan memperkirakan kenaikan pendapatan masyarakat, estimasi jumlah produksi rokok, maka ditetapkanlah target penerimaan cukai. Target itu ditetapkan dalam UU APBN, kemudian pemerintah menjalankan APBN. Secara nasional Industri hasil Tembakau  meyumbang  penerimaan  negara yang  cukup  signfikan  melalui cukai. Sepanjang 2018, penerimaan cukai rokok menembus hingga Rp 153 triliun  atau  lebih  tinggi  dibanding perolehan  di  2017 sebesar Rp147 triliun. Penerimaan cukai rokok pada tahun lalu. Pada tahun 2018 penerimaan cukai dari Provinsi Jawa Tengah mencapai 35,3 triliun. Kebijakan cukai selalu menimbang tiga dimensi di atas.

3.       Untuk diketahui, Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah ± 35% nya ditopang oleh industri pengolahan, dan  kontribusi dari industri pengolahan ± 22% nya diperoleh dari industri pengolahan tembakau yang merupakan urutan kedua berkontribusi pada pembentukan PDRB Jawa Tengah setelah industri makan minum. Data tersebut menunjukkan bahwa industri hasil tembakau memberi kontribusi yang cukup signifikan bagi pembentukan PDRB Jawa Tengah. Industri Hasil Tembakau (rokok) juga dapat dikatakan sebagai sektor kearifan lokal yang memiliki daya saing global. Tercatat terdapat 229 Industri rokok di Jawa Tengah, dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 81.990 orang

4.       Misal, pemerintah tidak dapat menurunkan tarif cukai serendah-rendahnya, meskipun kebijakan ini diinginkan oleh industri. Pemerintah masih harus berperan mengendalikan konsumsi, khususnya bagi kepentingan anak-anak dan remaja, sehingga tidak mendorong harga rokok yang murah. Sebaliknya, tarif cukai rokok tak dapat dinaikkan secara spektakuler. Bila harga rokok mahal dan konsumsi ditekan, akan memberikan dampak buruk ke para pekerja, pedagang, dll. Di samping itu, potensi munculnya rokok illegal juga bakal meningkat tajam.

5.       Presiden Joko Widodo telah memutuskan tarif cukai rokok pada 2020 dinaikkan, Industri rokok banyak yang protes dengan kenaikan yang dianggap sangat tinggi. Tapi ada juga pihak yang menganggap kenaikan ini masih kecil dikarenakan tahun 2018 tidak ada kenaikan cukai rokok. Kita harus sadari perdebatan mengenai kebijakan cukai sifatnya bisa sangat multi-dimensional. Tidak hanya satu faktor yang dilihat. Keputusan Presiden menaikan Cukai rokok telah melalui perdebatannya luar biasa komprehensif dari beragam pandang. Semua faktor sensitif ditimbang dan semua kemungkinan diantisipasi. Setelah itu keputusan pun diambil. Implementasi pasti akan menantang, namun dengan proses pengambilan keputusan yang solid, saya optimistis  dengan nasib bangsa ini. 

6.       Kurun waktu tahun 2014 s.d. 2016, Luas Areal Tembakau Provinsi Jawa Tengah memiliki kontribusi nasional kisaran 20%-30%, peringkat kedua setelah Provinsi Jawa Timur. Kontribusi produksi tembakau Provinsi Jawa Tengah menempati peringkat ketiga berada berada di kisaran 16%-22%, setelah Provinsi Jawa Timur (33%-55%) dan Provinsi NTB (18%-31%).

7.       Jenis Tembakau yang ada di Jawa Tengah, yakni:

Ø Tembakau Rajangan, luas areal 45.640,83 Ha dengan produksi kering 47.116,25 Ton di Tahun 2018. Sentra Produksi Tembakau Rajang berada di 23 kabupaten yakni Temanggung, Magelang, Rembang, Boyolali, Wonosobo, Grobogan, Demak, Kendal, Wonogiri, Klaten, Kebumen, Semarang, Purworejo, Pemalang, Banjarnegara, Blora, Karanganyar, Sragen, Cilacap, Tegal, Batang, Banyumas dan Pati dengan varietas kemloko, RAM, prancak, grompol, gober, rasa, cerupung dll.

Ø Tembakau Asepan, luas areal 2.481,17 Ha dengan produksi kering 3.031,42 Ton di Tahun 2018. Tembakau ini memiliki tujuan ekpor terutama ke Eropa sebagai bahan baku cerutu, merupakan tembakau lokal VO berbentuk krosok yang diproses secara Dark Fire Cured (DFC). Sentra produksinya di 6 Kabupaten yakni Klaten, Blora, Boyolali, Karanganyar, Sukoharjo dan Sragen dengan varietas grompol jatim dan kasturi. 

Ø Tembakau Garangan, luas areal 1.140 Ha dengan produksi kering 722,08 Ton di Tahun 2018. Pengolahan tembakau ini yaitu setelah dirajang kemudian dibentuk di atas rigen bambu persegi panjang dan diasapi dengan bara api sampai kecoklatan. Sentra produksinya berada di 3 kabupaten yakni Kabupaten Wonosobo, Banjarnegara dan Pekalongan dengan varietas kemloko, genjah kenanga dan varietas lokal lainnya.

Ø Tembakau Vorstenland, luas areal 219,57 Ha dengan produksi kering 242,16 Ton di Tahun 2018. Tembakau ini disebut juga Tembakau Cerutu Vorstenlanden tujuan ekpor yang diusahakan dengan jenis Vorst-NO (Vorstenlanden Na–Oogst) dan VBN (Vorstenlanden Bawah Naungan) yang sentranya berada di 1 kabupaten yakni Kabupaten Klaten.

8.       Kurun waktu 2014 s.d. 2018, luas areal, produksi dan produktivitas tembakau Provinsi Jawa Tengah terus mengalami peningkatan. Di Tahun 2018 luas areal tembakau Jawa Tengah mencapai        49.481,57 Ha, meningkat 10,15% dibandingkan luas areal tahun sebelumnya, dan produksi tembakau wujud kering mencapai 47.116,25 Ton, meningkat 22,88% dibandingkan produksi tahun sebelumnya.

9.       Tabel Perkembangan Luas Areal, Produksi dan Produktivitas Perkebunan Rakyat

Tanaman Tembakau di Jawa Tengah Tahun 2014 s.d. 2018

Tahun

Luas Areal

Produksi

 Petani Pekebun (KK)

Ditanam (Ha)

Dipanen (Ha)

 Jumlah     (Ton)

Rata-rata (Kg/Ha)

2014

46.540,03

42.734,33

32.541,56

761

125.154

2015

52.469,92

50.916,10

40.563,65

797

139.182

2016

42.794,32

40.453,33

27.923,54

690

115.128

2017

45.085,37

44.919,27

38.340,66

854

117.633

2018

50.740,01

49.481,57

47.116,25

952

140.808

           Wujud Produksi: Daun / krosok kering